Tamam

Bakteri yang Hidup di Rokok



Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Health Perspectives, para peneliti telah menemukan bahwa rokok mengandung ratusan jenis bakteri. Hali ini merupakan nilai tambahan negatif dalam daftar panjang alasan untuk menghindari rokok dan penggunaan tembakau lainnya. Merokok diketahui menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit pernapasan.

Dalam penelitian tersebut, empat macam merek rokok yang diuji dan ditemukan mengandung ratusan jenis bakteri mulai dari bakteri yang ditemukan di dalam tanah yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Para peneliti menyatakan, "Jika organisme ini dapat hidup selama dari proses merokok, dan kami percaya mereka bisa, maka mungkin mereka bisa terus memberikan kontribusi untuk menularkan penyakit kronis serta dapat menularkan kepada para perokok pasif yang terpapar asap tembakau dari perokok pasif." Penelitian lebih lanjut masih meneliti apakah bakteri masih dapat bertahan di tembakau ketika dalam proses merokok.

Sumber: www.biology.about.com

Selengkapnya>>>



Komunitas ilmuwan telah mengetahui bahwa menghirup gas karbon dioksida selama beberapa waktu dapat memicu ketakutan dan kecemasan. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell telah melaporkan bagaimana pengaruh karbon dioksida dapat memicu rasa takut dan kecemasan pada tikus percobaan. Hal ini dikarenakan gas karbon dioksida dapat meningkatan keasaman di otak. Sehingga menyebabkan aktivasi protein pada otak yang disebut protein acid-sensing channel ion 1a (ASIC1a). Protein ini ditemukan dalam jumlah besar di pusat otak yang berhubungan dengan ketakutan, yaitu amygdala.

Para peneliti juga menunjukkan bahwa respons otomatis berhubungan dengan rasa takut dapat dikurangi dengan menurunkan tingkat keasaman di otak. Penemuan ini mungkin memiliki implikasi tentang bagaimana gangguan kecemasan pada manusia. Oleh sebab itu, kita disarankan mengontrol pernapasan dengan latihan olah napas dengan tujuan mengatasi kecemasan. Hasil penelitian juga membuat sebuah pertanyaan apakah beberapa orang yang terbiasa melaukan olah napas dapat mengontrol rasa takut dan kecemasan bahkan mungkin menghambat saluran ASIC di amigdala otak, dengan demikian juga dapat meningkatkan pH. Langkah penelitian berikutnya adalah untuk menentukan apakah protein ASIC1a juga bereaksi serupa pada manusia seperti yang terjadi pada ASIC1a tikus.

Sumber: www.biology.about.com

Selengkapnya>>>

Dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah... (QS. An Nahl: 68)


Kromosom Lebah
Jika penentuan jenis kelamin (Sex Determination) pada manusia menggunakan kromosom X dan Y, maka berbeda dengan lebah. Jenis kelamin lebah ditentukan oleh jumlah kromosomnya. Genom lebah terdiri dari 16 kromosom (Gambar 1), lebah betina memiliki 16 kromosom (haploid=n) sedangkan lebah jantan memiliki 32 kromosom (diploid=2n). Keajaiban yang nampak adalah jumlah genom lebah tersebut menunjukkan nomor surat An Nahl (Lebah) yang ada di dalam Al Qur'an. Surat ini memiliki 128 ayat yang merupakan hasil perkalian divisible dari (16/2)X(32/2)=128. Selanjutnya, lebah yang betina merupakan lebah pekerja yang mencari makan bagi koloninya. Dalam Al Qur'an surat 69 penggunaan kata ganti lebah menggunakan kata ganti femina. Perhatikan ayat yang berwarna merah berikut:

ثُمَّ كُلى مِن كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسلُكى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخرُجُ مِن بُطونِها شَرابٌ مُختَلِفٌ أَلوٰنُهُ فيهِ شِفاءٌ لِلنّاسِ ۗ إِنَّ فى ذٰلِكَ لَءايَةً لِقَومٍ يَتَفَكَّرونَ

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempulah jalan Tuhan-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnannya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan
(QS. An Nahl: 69)


Gambar 1. Posisi 16 genom kromosom lebah (Sumber: Genomebiology).


Keunikan lain dari genom lebah nampak dari panjang nukleotida DNA mitokondrianya (mtDNA) yang berjumlah 16,343nt yang jika dibulatkan akan menjadi 16 (Gambar 2).

Gambar 2. Genom mitokondria lebah madu (Apis mellifera). Lingkaran merah menunjukkan panjang nukleotida (nt) mitokondria lebah (Sumber: http://www.ncbi.nlm.nih.gov)


Tarian Lebah
Lebah membutuhkan nektar (cairan pada bunga sebelum menjadi madu) untuk makananya. Setiap koloni memiliki lebah pemandu untuk mencari bunga. Penentuan lokasi bunga membutuhkan tarian yang berfungsi untuk memanggil lebah lainnya. Lebah pemandu mulai menari di tengah-tengah sarang dengan menggoyangkan badannya. Sulit dipercaya, tapi gerakan dalam tarian ini memberikan lebah-lebah lain informasi tentang lokasi sumber bunga. Misalnya, jika tarian berupa garis lurus ke arah bagian atas sarang, maka sumber makanan tepat mengarah ke arah matahari. Jika bunga berada pada arah sebaliknya, lebah akan membuat garis ke arah tersebut. Jika lebah menari ke arah kanan, maka ini menunjukkan bahwa sumber bunga berada tepat sembilan puluh derajat ke arah kanan.

Tetapi ada satu pertanyaan, lebah menjelaskan arah tersebut berdasarkan posisi matahari, padahal posisi matahari terus berubah. Setiap empat menit matahari bergeser satu derajat ke barat, faktor yang mungkin menurut anggapan orang diabaikan lebah dalam penentuan arah ini. Tapi, pengamatan menunjukkan bahwa lebah-lebah ini juga memperhitungkan pergerakan matahari. Ketika lebah pemandu memberitahu arah lokasi bunga, dalam setiap empat menit, sudut yang mereka beritahukan juga bertambah satu derajat ke barat. Berkat perhitungan yang luar biasa ini, para lebah tidak pernah tersesat (Gambar 3). Lebah pemandu tak hanya menunjukkan arah sumber bunga, tetapi juga jarak ke tempat tersebut. Lama waktu tarian dan jumlah getaran memberi petunjuk kepada lebah-lebah lain tentang jarak ini secara akurat (Gambar 4). Mereka membawa perbekalan sari-sari makanan yang sekedar cukup untuk menempuh jarak ini, dan kemudian memulai perjalanan (Harun Yahya).

Gambar 3. Tarian lebah (Barth, 1982)


Gambar 4. Grafik korelasi antara kecepatan tarian lebah dengan jarak makanan (Sumber: NC State University).

Arsitektur Ulung
Lebah madu hidup sebagai koloni dalam sarang yang mereka bangun dengan sangat teliti. Dalam tiap sarang terdapat ribuan kantung berbentuk heksagonal atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan madu. Tapi, pernahkah kita berpikir, mengapa mereka membuat kantung-kantung dengan bentuk heksagonal?

Para ahli matematika mencari jawaban atas pertanyaan ini, dan setelah melakukan perhitungan yang panjang dihasilkanlah jawaban yang menarik! Cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat dinding berbentuk heksagonal.

Mari kita bandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain. Andaikan lebah membangun kantung-kantung penyimpan tersebut dalam bentuk tabung, atau seperti prisma segitiga, maka akan terbentuk celah kosong di antara kantung satu dan lainnya, dan lebih sedikit madu tersimpan di dalamnya. Kantung madu berbentuk segitiga atau persegi bisa saja dibuat tanpa meninggalkan celah kosong. Tapi di sini, ahli matematika menyadari satu hal terpenting. Dari semua bentuk geometris tersebut, yang memiliki keliling paling kecil adalah heksagonal. Karena alasan inilah, walaupun bentuk-bentuk tersebut menutupi luasan areal yang sama, material yang diperlukan untuk membangun bentuk heksagonal lebih sedikit dibandingkan dengan persegi atau segitiga. Singkatnya, suatu kantung heksagonal adalah bentuk terbaik untuk memperoleh kapasitas simpan terbesar, dengan bahan baku lilin dalam jumlah paling sedikit.

Hal lain yang mengagumkan tentang lebah madu ini adalah kerjasama di antara mereka dalam membangun kantung-kantung madu ini. Bila seseorang mengamati sarang lebah yang telah jadi, mungkin ia berpikir bahwa rumah tersebut terbangun sebagai blok tunggal. Padahal sebenarnya, lebah-lebah memulai membangun rumahnya dari titik yang berbeda-beda. Ratusan lebah menyusun rumahnya dari tiga atau empat titik awal yang berbeda. Mereka melanjutkan penyusunan bangunan tersebut sampai bertemu di tengah-tengah. Tidak ada kesalahan sedikitpun pada tempat di mana mereka bertemu.

Lebah juga menghitung besar sudut antara rongga satu dengan lainnya pada saat membangun rumahnya. Suatu rongga dengan rongga di belakangnya selalu dibangun dengan kemiringan tiga belas derajat dari bidang datar. Dengan begitu, kedua sisi rongga berada pada posisi miring ke atas. Kemiringan ini mencegah madu agar tidak mengalir keluar dan tumpah (Harun Yahya).

Selengkapnya>>>
Tamam

Pembuatan Preparat Hydra


Hydra merupakan hewan berongga dengan bentuk tubuh berbentuk polip yang masuk dalam filum Cnidaria kelas Hydrozoa (Campbell dkk, 2005). Hewan ini hidup soliter di perairan tawar. Ukuran tubuhnya mulai dari beberapa sentimeter sampai lebih dari 1 sentimeter. Hewan ini mwmiliki tentakel yang dilengkapi dengan sel penyengat (knidosit) yang mengandung neurotoksin dengan tujuan melumpuhkan mangsa.

Adapun proses pembuatan preparat Hydra sebagai berikut:
  1. Letakkan seekor Hydra di atas kaca objek dengan menggunakan pipet.
  2. Biarkan beberapa saat agar tubuhnya relaksasi sampai tentakelnya menjulur penuh.
  3. Jika tentakel sudah menjulur penuh, tetesi Hydra dengan cairan Heller sebanyak 3-5 tetesan dan tunggu selama 3 menit
  4. Isaplah cairan Heller dan pada saat yang sama tetesi Hydra dengan aquades untuk menghilangkan asamnya. Pada tahap ini tubuh Hydra mudah rapuh.
  5. Jatuhkan kaca penutup diatas tubuh Hydra. Sel-sel Hydra akan tersebar di bawah kaca penutup. Ketuklah pelan-pelan dan secara hati-hati dengan pensil. Selanjutnya keringkan cairan yang ada di sekitar kaca penutup.
  6. Letakkan prepatat di atas es hingga membeku. Lebih baik jika menggunakan es kering.
  7. Setelah lebih dari 1 menit, sisipkan silet di bawah salah satu sudut kaca penutup dan putarlah. Selanjutnya angkat kaca penutup.
  8. Lunakkan preparat dengan cara memegang pada bagian bawah kaca benda.
  9. Segera masukkan preparat dalam cairan Carnoy selama 1 menit.
  10. Cucilah dengan alkohol 95% selama 1 menit.
  11. Cucilah dengan aquades selama 1 menit.
  12. Warnai Hydra dengan Phloxine selama 1 menit.
  13. Cucilah dengan aquades.
  14. Warnai dengan Metilen Blue selama 1 menit.
  15. Cucilah dengan asam asetat 0,2% untuk menghilangkan sisa warna biru.
  16. Masukkan ke dalam alkohol 95% selama 1 menit (lakukan 2 kali).
  17. Masukkan ke dalam alkohol absolut selama 1 menit (lakukan 2 kali).
  18. Masukkan ke dalam alkohol-xylol
  19. Masukkan ke dalam xylol murni selama 1 menit (lakukan 2 kali).
  20. Rekatkan preparat dengan entellan.
HASIL:



Sumber Referensi: Budiono, J. Djoko. 1992. Pembuatan Preparat Mikroskopis. Surabaya: UNESA Press

Selengkapnya>>>

Author This Blog: Tamam